Skip to content

Survey study, 2019

Are anxiety and high cortisol levels linked to PMS?

Yes. Both anxiety and abnormal cortisol levels were associated with PMS. Women with abnormal cortisol levels were 2.5 times more likely to have PMS than those with normal levels. This was a small study, so results may not apply widely.

Early or limited evidence 40 female midwifery students in Makassar, Indonesia

What they did

Cross-sectional observational study of 40 female midwifery students in Makassar, Indonesia from June to July 2017. They completed questionnaires about PMS and anxiety, and had their cortisol levels measured in a laboratory.

What they found

Both anxiety and cortisol levels affected the development of PMS (Sig Model 0.00, which is less than 0.05). Cortisol was identified as the more direct cause. Women with abnormal cortisol levels had 2.5 times the likelihood of developing PMS compared to those with normal cortisol levels (OR 2.530).

What it means for you

Abnormal cortisol and anxiety may be linked to PMS, with cortisol being the more direct factor. However, the study was very small with only 40 students, measured cortisol and anxiety at only one point in time, and did not establish whether abnormal cortisol causes PMS or whether PMS changes cortisol levels.

40

female students

OR 2.530

cortisol 2.5x higher risk

Sig 0.00

anxiety and cortisol effect

About the study

Original title
Hubungan antara Kecemasan dan Kadar Kortisol terhadap Kejadian Premenstrual Syndrom
Authors
Dia Rianti
Journal
Jurnal Midwifery
Year
2019
Study design
Survey study
What was tested
None. This is an observational study.
Open access
Yes
Original abstract

Pendahuluan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang sering dialami oleh wanita dan merupakan masalah utama dalam masyarakat adalah gangguan menstruasi. Gangguan ini sering merupakan sumber kecemasan bagi wanita. Gangguan yang sering terjadi antara lain siklus menstruasi yang tidak teratur, gangguan volume menstruasi baik perdarahan yang lama atau abnormal, gangguan nyeri atau dismenorrhea, atau sindroma pramenstruasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis Tingkat kecemasan dan Kadar Kortisol pada wanita usia reproduksi sehat terhadap kejadian Premenstrual Syndrom pada mahasiswi DIV Kebidanan STIKes Mega Rezky MakassarMetode penelitian ini bersifat analitik observasional dengan rancangan cross-sectional study. Pengambilan Sampel sebanyak 40 responden dengan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner, wawancara dan observasi. Penelitian dilaksanakan pada 01 Juni sampai dengan 14 Juli 2017 di STIKes Mega Rezky Makassar untuk mendapatkan data PMS dan Cemasnya sedangkan untuk data kortisolnya di Laboratorium Universitas Hasanuddin MakassarHasil penelitian menunjukan bahwa Kecemasan dan kadar kortisol mempengaruhi terjadinya Pre menstrual Syndrom dengan nilai Sig Model 0.00 < 0.05, dari kedua variabel tersebut kortisol merupakan penyebab langsung terjadinya Pre menstrual syndrom dengan nilai OR 2.530 yang berarti kortisol yang tidak normal memiliki kecenderungan 2.5 kali lipat mengalami Pre menstrual syndrom dibanding kortisol yang normal.Kesimpulan kecemasan dan kadar kortisol mempengaruhi terjadinya premenstrual syndrome, dari kedua variabel tersebut kortisol merupakan penyebab langsung terjadinya premenstrual syndrome. Perlunya pendidikan kesehatan tentang pre menstrual syndrome pada mahasiswi melalui pendekatan teori ataupun praktek yang lebih komprhensif selain itu penelitian ini memiliki beberapa keterbatasn dalam pelaksanaannya, tidak ditemukannya hubungan yang positif antara kecemasan yang dialami subjek penelitian dengan premenstrual syndrome.

Reproduced under CC-BY-SA.

Topics